IKLAN

Memaparkan catatan dengan label Yahudi Islam. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Yahudi Islam. Papar semua catatan

Isnin, 21 Januari 2013

Tokoh Genetik Yahudi Peluk ISLAM Hanya Kerana 1 Ayat AL-QURAN



“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (QS. Al-Baqarah : 228).

Ayat tersebut menarik perhatian Robert Guilhem, seorang pakar genetik dan tokoh Yahudi di Albert Einstein College. Ia bertanya-tanya, mengapa kitab suci umat Islam memberikan ketentuan masa iddah tiga bulan? Mengapa setelah bercerai perempuan tidak boleh langsung menikah lagi dengan lelaki lain?

Guilhem pun menyelidiki ayat itu dan melakukan penelitian. Seperti diterbitkan societyberty.com, hasil penelitian Guilhem menunjukkan, hubungan intim suami isteri menyebabkan laki-laki meninggalkan ‘sidik khususnya pada perempuan. 

Jika pasangan suami isteri tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Kemudian ia akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Setelah tiga bulan dan sidik khusus suaminya hilang, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya.

Guilhem kemudian melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja.

Ketika ia melakukan penelitian serupa di perkampungan non muslim Amerika, ia mendapatkan hasil yang berbeza. Ternyata wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. 

Ertinya, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.

Pakar genetik itu juga melakukan penelitian kepada isterinya sendiri. Ternyata hasilnya menunjukkan isterinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki. Ia mendapati bukti bahawa isterinya curang. Dari tiga anaknya, hanya satu yang berasal dari dirinya.

Setelah penelitian-penelitian tersebut, Guilhem akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia bersyahadat setelah meyakini hanya Islam lah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin bahwa perempuan muslimah adalah perempuan paling bersih di muka bumi ini. 

sumber /mimpi-senja



Selasa, 11 September 2012

Kisah Muslimah Yahudi Tentang Kekejaman Nazi


Inilah Kisah Muslimah Yahudi tentang Kekejaman Nazi


Selama lebih daripada lima dekad, Leila Jabarin menyembunyikan rahsia dari anak-anak dan cucunya bahawa ia adalah korban yang selamat dari pembunuhan Nazi Jerman di Kamp Konsetresi Auschwitz. Keluarganya tahu bahawa ia seorang mualaf Yahudi, namun tidak ada yang tahu masa lalu Leila yang kelam.


Rahsia itu akhirnya diungkap Leila kepada keluarganya. Kepada mereka, Leila menceritakan asal-usulnya ini dengan penderitaan yang dialaminya selama berada dalam kem konsetrasi. "Nama Ibraniku Lea, tapi aku suka dipanggil Helen," ungkap Leila membuka cerita seperti dikutip alarabiya.net.

Leila menuturkan, ketika berusia enam tahun ia menetap di Palestin, hanya beberapa bulan sebelum negara Yahudi Israel diisytiharkan Mei 1948. Leila bersama keluarganya menumpang kapal yang membawa pendatang Yahudi dari Yugoslavia. Selama seminggu, kapal yang ditumpanginya terkatung-katung di lepas pantai Haifa. Saat itu, Inggeris melakukan pengeboman di utara pelabuhan, "kata dia yang merupakan keturunan Hungary dan Rusia ini.
Sebelum memutuskan pindah ke Palestin, Leila bersama keluarga menetap di Austwitz. Saat itu, ibu Leila bekerja sebagai pembantu di rumah seorang doktor. Sedangkan ayahnya adalah tukang kebun. "Aku lahir di sana. Aku disembunyikan doktor Kristian dengan tuala. Doktor itu pula yang menyelamatkan keluarganya selama tiga tahun di bawah lantai rumah dalam kem," kenang Leila.

Menurut Leila, sering kali tentera Nazi Jerman berulang kali memeriksa rumah doktor tempat Leila dan keluarga tinggal. Ia pun menyaksikan bagaimana Nazi membunuh anak-anak. Beruntung, berulang kali doktor ini menyelamatkan Leila dan keluarganya. "Aku ingat betul, bagaimana ibu memberi makan kami roti kering yang direndam dalam air garam," kata dia.

"Aku juga ingat, apa yang ku kenakan ketika itu yakni piyama bergaris hitam dan putih. Aku juga ingat bagaimana mereka melakukan pemukulan di kem-kem. Jika aku cukup sihat, aku akan kembali melihatnya tapi aku takut lantaran sudah empat kali melakukan serangan jantung," jelasnya yang kini telah mantap menjadi muslimah.

Leila mengaku, sukar untuk mengingat bagaimana begitu banyak orang menderita. Kerana itu, sukar bagi dirinya untuk menceritakan kisah pilu kepada keluarga. "Begitu menakutkan dan sangat menakutkan," katanya yang mampu bercakap dalam bahasa Ibrani dan Arab.

Pada tahun 1945, mereka dibebaskan. Mereka pindah ke Palestin. Sebelumnya, Leila dan keluarga dimasukan terlebih dahulu di kem Atlit, sekitar 20 km dari Haifa. Lalu, 20 tahun kemudian, Leila memutuskan pindah ke Holon lalu ramat Gan dekat Tel Aviv.

10 tahun kemudian, Leila berkahwin dengan lelaki Arab bernama Ahmed Jabarin. Dan Leila pun mengikuti suami untuk menetap di Umm al-Fahm. "Aku kawin lari ketika berusia 17 tahun. Keluarga menolak pernikahan ini," kenang Leila.

Meski demikian, tidak perlu lama bagi Leila untuk berdamai dengan keluarga besarnya. Ibunya pun menyarankan Leila untuk masuk Islam. "Dia kata aku perlu masuk Islam untuk menyelamatkan dirinya dari wajib milter," katanya.

Hingga saat ini, Leila masih merasa trauma dengan masa lalu yang kelam. Untuk alasan itulah, ia tidak menceritakan masa lalunya kepada lapan anak dan 31 cucunya. "Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk memberitahu mereka," kata dia.

Beberapa hari lalu, seorang dari dinas sosial Israel muncul untuk bercakap soal masa lalu Leila. "Setiap hari itu diperingati, aku merasakan bagaimana memakan roti kering yang direndam air garam. Aku sendiri tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi padaku," ujarnya.

Anak Leila, Nader Jabarin, 33 tahun, baru paham mengapa ibunya selalu menangis ketika tragedi itu berlaku. "Aku sering melihat beliau menangis ketika peringatan tragedi holocaust terjadi. Tapi saya paham sekarang," jelasnya.

Sumber al-arabiya.net/DetikIslam


Selasa, 6 Mac 2012

Kisah Seorang Yahudi yang Mengislamkan Jutaan Orang



Oleh: Mustamid



DI SUATU tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berbangsa Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim. Ia adalah ibu bapa yang menjual makanan di sebuah kedai makanan. Kedai tersebut terletak di sebuah pangsapuri di mana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang mempunyai seorang anak bernama "Jad" berumur 7 tahun. 

Jad, si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi kedai tempat di mana Ibrahim bekerja untuk membeli keperluan rumah. Setiap kali hendak keluar dari kedai-dan Ibrahim dianggapnya lengah-Jad selalu mengambil sepotong coklat milik Ibrahim tanpa seizinnya.

Pada suatu hari selepas berbelanja, Jad terlupa mengambil coklat ketika mahu keluar seperti biasa yang ia lakukan selalu..., dan tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong coklat sebagaimana kebiasaannya. Jad terkejut, kerana ia mengira bahawa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orang tuanya.

"Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mahu keluar dari sini, ambillah sepotong coklat, itu adalah milikmu", ujar Jad sebagai tanda persetujuan.

Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang seorang Muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi

Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berunding kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara rawak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua helai darinya, menutupnya dan mula memberikan nasihat dan penyelesaian kepada masalah Jad.

Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.

14 Tahun Berlalu 

Jad kini telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim ketika itu berumur 67 tahun.

Alkisah, Ibrahim akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya di mana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berunding kepadanya.Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.

Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika puteranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak. Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, kerana Ibrahim-lah yang selama ini memberikan penyelesaian dari semua permasalahannya, dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.

Hari-hari pun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak.Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.

Jad lalu cuba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu mengandungi tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak boleh membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berbangsa Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua helai dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan rawak saat ia datang berunding.

Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua helai yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan penyelesaian kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.

Jad pun terhenyak @terkejut, kemudian dengan penuh rasa ingin tahu ini bertanya, "Buku apakah ini?"
Teman Tunisianya menjawab, "Ini adalah Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam!"

Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,

Jad lalu kembali bertanya, "Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?"
Temannya menjawab, "Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!"

Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu-ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!

Islamkan 6 juta orang

Kini Jad sudah menjadi seorang Muslim, kemudian ia menukar namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Quran yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh masalah hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkhidmat menyebarkan ajaran Al-Qur'an.

Mulakan Jadullah mempelajari Al-Qur'an serta memahami isi kandungannya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropah hingga berjaya mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.

Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua Afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat:

((ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة ...!!))

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!! ..." [QS. An-Nahl; 125]

Ia pun yakin bahawa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropah dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang di antaranya adalah Kenya, Sudan bahagian selatan (yang majoriti penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berjaya mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari puak Zulu, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lain.

Akhir Hayat Jadullah 

Jadullah Al-Qur'ani, seorang Muslim sejati, pendakwah hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berjaya mengislamkan jutaan orang.

Jadullah meninggal dunia pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau meninggal dunia dalam masa-masa berdakwah.

Kisah pun belum selesai 

Ibu Jadullah Al-Qur'ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan pensyarah di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah iaitu saat berumur 70 tahun.

Si ibu bercerita bahawa-saat puteranya masih hidup-ia menghabiskan masa selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan anaknya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi anaknya untuk kembali menjadi Yahudi.Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain kerana Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Yang menjadi pertanyaannya, "Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?" 

Jadullah Al-Qur'ani bercerita bahawa Ibrahim yang dia kenal selama 17 tahun itu tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: "Hai orang kafir!" atau "Hai Yahudi!" bahkan Ibrahim tidak pernah pun untuk sekadar berkata: "Masuklah agama Islam!" 

Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarnya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua Muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya perbincangan masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Quran.

Kemudian dari kesaksian Dr. Shafwat Hijazi (salah seorang daie terkenal dari Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas permasalahan Darfur serta penyelesaian pengendalian dari ajaran Kristian, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Apabila ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur'ani?, Ia menjawab, tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani.

Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani. Dan Jadullah Al-Qur'ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berbangsa Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun mempunyai akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.

Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur'ani, kisah ini merupakan kisah benar yang penulis dapatkan, kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang digelar sebagai "Syaikh golongan Revolusioner Mesir". Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kaherah pada hari Jumaat, 16 Disember 2011 yang lalu.

Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa yang penuh fitnah seperti ini. Di saat ramai orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur'ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mendakwa sesat, menyatakan bid'ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.

Dulu da'i-da'i kita telah berjuang bermati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam, tetapi dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukuminya nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.

Mari kita renungi kembali surah Thaha ayat 44 iaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun - 'alaihimassalam-saat mereka akan pergi mendakwahi fir'aun. Allah berfirman,

((فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى))

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." 
Bayangkan, Fir'aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut, tanpa menyebut dia Kafir Laknatullah! Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari Firaun, di mana Al-Qur'an pun merakam kekafirannya hingga kini?

Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dakwah dengan kaedah Al-Qur'an? Iaitu dengan Hikmah, Nasihat yang baik, dan Perbincangan menggunakan hujah yang kuat namun tetap sopan dan santun?

Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini.
Oleh itu, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, boleh jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam.
Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, boleh jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillahi min dzalik.

Kerana sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri yang paling suci sehingga tak mahu menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada Nabi Adam - 'alaihissalam-. Oleh kerana itu, boleh jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!

Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah merengus ataupun "memamah" akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita sentiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja. Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab. *

Penulis adalah mahasiswa Program Licence Universiti Al-Azhar Kaherah Konsentrasi Hukum Islam. Facebook; Mustamid
Keterangan: Muslim Afsel dan foto Penulis


Semoga Kita semua mendapat manfaat dari cerita tersebut..Amin.

Diterjemah dan Disunting dari: www.hidayatullah.com



Isnin, 14 November 2011

Subhanallah!! Seorang Yahudi Radikal Bertaubat Ingin Khilafah Islamiyyah Ditegak


PALESTIN, (voa-islam.com) - Mikhail Chernovska adalah seorang Yahudi Ekstrimis yang menyatakan keislamannya, mendedahkan semangatnya ingin melihat Khilafah islamiyyah tegak dengan Al-Quds sebagai pusat. "Sungguh aku telah mendapat petunjuk. Sebabnya hanya satu, kerana aku ingin mencari kebenaran "ungkap Mikhail.Hal ini dismapaikan oleh laman harakatut tauhid Al-islamy selasa 8 November 2011.


Mikhail mempunyai nama hijrah Muhammad Al-Mahdi mirip dengan nama seorang imam yang dijanjikan Rasulullah SAW di akhir zaman yang akan membawa keadilan dengan menegakkan Dinullah di muka bumi. Mahdi adalah seorang Yahudi yang berasal dari Azerberijan yang kemudian berhijrah ke Palestin setelah masuk Islam.

Tempat tinggal Mahdi sekarang betul-betul di bandar Hebron Tebing Barat. Ia lahir di baku, Azerbeijan 37 tahun yang lalu.Lelaki yang berasal dari Azerbeijan ini hidup di tengah-tengah keluarga yang ektrim. Ia berhijrah ke Israel pada awal 90an.
...." Sungguh aku telah mendapat petunjuk. Sebabnya hanya satu, kerana aku ingin mencari kebenaran "....
Hebron adalah tempat pembunuhan seorang Yahudi radikal, Baruch Goldstein, di gua para leluhur. Pada saat itu ada sekitar 29 muslim yang merasakan pengaruh dari pembunuhan tersebut. maka bersamaan itu Mahdi memutuskan untuk berpindah ke penempatan Kiryat Arba, di mana dia tinggal bersama pahlawan dalam pandangannya pada waktu itu, Goldstein, dan bergabung dengan penduduk ekstremis.

Dia menambah bahawa perbincangan agama dan falsafah dengan seorang Palestin yang mempunyai kraja, untuk memperbaiki kereta di Hebron, membuatnya meninjau pandanganya secara berperingkat, sehingga masuk Islam dan kembali ke Baku dalam rangka menikahi seorang Muslimah.Mahdi mendedahkan bahawa ia mendapatkan sambutan yang hangat dari jirannya yang baru di Hebron, walaupun ia berdarah Yahudi.
.... Ia sangat bersemangat untuk melihat Khilafah Islamiyyah tegak dengan Al-Qus sebagi ibukotanya ....
Ia mendedahkan kepada koresponden AFP saat mengunjunginya di rumah "Aku dulu penduduk pelampau dan bermusuhan dengan mereka, tapi mereka melayan aku seperti seorang kakak bagi saya dan menawarkan bantuan" kenang Muhammad Al-Mahdi. Fakta yang merujuk kepada kehidupan Mahdi, di Kiryat arba, seolah-olah tidak mungkin, setelah ia masuk Islam dan berkahwin dengan Sabina muslimah. Yang mempunyai 4 anak setelah hidup bersamanya.

"Penduduk Parta menyerang saya beberapa kali, dan melemparkan batu di rumah saya, dan menulis slogan-slogan di dinding mengundang saya untuk meninggalkan tempat itu" ujar lelaki berusia 37 tahun itu.
Dia menambah "Kemanapun kita pergi kita mengalami gangguan, kerana isteri saya memakai tudung, dan berulang kali dipersoalkan oleh pasukan keselamatan, tapi yang aku peduli adalah bahawa anak-anakku hari ini adalah Muslim, dan mengikuti agama yang telah aku pilih". Ia sangat bersemangat untuk melihat Khilafah Islamiyyah tegak dengan Al-Qus sebagi ibukotanya.

Beliau menegaskan: "Saya menyedari bahawa agama Yahudi ada banyak yang kontradiksi, dan bahawa Islam adalah agama kebijaksanaan dan kebenaran, saya telah mendapat petunjuk kerana saya mencari kebenaran, itulah satu-satunya penyebab keislamanku" jelas Al-Mahdi seraya mengakui kebaikan temanya Zalloum, pemilik Karaj, yang telah menjadi sebab ia mendapatkan hidayah.

Zalloum mengakui bahawa sejak awal mengenali Mikhail yang muncul dalam [persepsinya adalahMikhail orang yang baik tidak seperti penduduk kebanyakan di Kiryat Arba. Ia sering berdialog masalah agama dan falsafah dengan Mikhail sampai suatu saat ia berkata pada Mikhail: "Kalau tidak aku menjadi Yahudi melalui kamu, kamu yang masuk Islam melalui aku, selepas enam bulan perbincangan, akhirnya ia mendapatkan hidayah masuk Islam" ungkap Zalloum.

Zalloum menambah: "Memang benar bahawa Michael menjadi Muhammad al-Mahdi, tetapi ia tidak boleh melepaskan semua Budaya Yahudi, Fushm Bintang Daud di salah satu tangannya akan mengingatkan bahawa dia adalah seorang Yahudi, walaupun ia meneruskan hari pada prestasi dari solat wajib tepat pada masanya dan membaca Al-Quran ". (usamah / tawhid)


Isnin, 19 September 2011

Peter Casey Tidak Segan Solat di Kedai Starbucks


NEW YORK - Peter Casey, atau Abdul Malik, berlatar belakangkan seorang Yahudi-Kristian. Namun pencarian spiritual pemuda berusia 23 tahun ini bermuara pada Islam. Pada usia 15 tahun, lulusan Queens College ini memutuskan bersyahadat.

Kini namanya dikenal secara luas baik di negerinya, Amerika Syarikat, mahupun dunia internasional setelah pengakuannya memilih Islam tersebar luas di alam maya. Alih-alih takut akan keselamatan nyawanya mengingat fobia Islam kembali mengental di AS menjelang peringatan tragedi 11 September, ia malah rajin menunjukkan keyakinan barunya di depan awam.

Ia misalnya, selalu pergi ke masjid setiap hari dengan 'menumpang' skateboard-nya -- gaya khas anak muda AS. Ia juga jarang berfikir dua kali untuk melakukan ibadah shalat di Starbuck, jika kebetulan ia tengah minum di sana dan waktu shalat telah tiba.

Lelaki bermata biru ini mengaku pantang menyembunyikan identiti keislamannya. Sebaliknya, ia mengatakan ia berusaha untuk "menentang stereotip dan kesalahfahaman" orang lain di sekitarnya tentang Islam.

Sebagai seorang mualaf yang dibesarkan di pinggiran kota dengan latar belakang Yudeo-Kristian(Yahudi-Kristian) Casey berada dalam posisi yang sebetulnya 'mustahil' untuk melakukannya. Namun, itulah tekad Casey; membuat orang belajar menerima seorang Muslim apa adanya, mulai dari cara dia berpenampilan, berbicara, dan bertindak.

Casey dibesarkan di pinggiran Long Island oleh ibu yang beragama Yahudi dan ayah Katolik. Dia tumbuh dalam keluarga yang bertolak belakang dalam melihat Jesus. Di satu sisi, kristian yang berbicara tentang Jesus sebagai Allah Putra, Allah Bapa, dan roh Kudus. Di sisi lain, Yudaisme berbicara tentang Yesus sebagai seorang Nabi palsu.

"Saya merasa ada dua hal ekstrem di sana, dan saya mempelajari keduanya," kata Casey.

Dan kemudian, pasca-serangan 11 September 2001, pemahaman mulai berubah. Dia baru berusia 13 tahun ketika dua menara kembar WTC itu runtuh. Sejak itu, ia rajin berlayar di dunia maya mengorek isi ajaran Islam -- yang pada awalnya dituduhkan berada di balik serangan itu. Ia menemukan doktrin yang lebih masuk akal tentang Yesus: dia seorang nabi, seorang lelaki yang menyampaikan firman Allah. Tidak lebih, tidak kurang.

"Ketika saya mulai belajar tentang Islam, saya seperti:" Ini dia. Ini adalah agama itu," katanya.

Dua tahun kemudian, pada usia 15 tahun, ia masuk Islam. (Orang tuanya menolak memberikan komen untuk cerita ini).

Sejak itu, lelaki yang baru-baru mulai mengajar sejarah di sebuah sekolah Islam di Brooklyn, telah berupaya untuk meluruskan kecurigaan publik AS pada Islam. Tak hanya melalui perbuatan -- seperti bershalat di tempat umum dan ramah pada siapa saja -- ia juga aktif berdakwah melalui blog-nya yang bertajuk 'Dawah Addict'. Tema-tema seperti 'Muhammad dalam Alkitab' dan 'Bagaimana Menjadi Seorang Muslim' diulasnya tanpa canggung.

"Ketika saya pertama kali menjadi Muslim, dan masih terdengar hingga hari ini, orang-orang berkata,'Mengapa tidak ada lebih banyak Muslim yang mengatakan terorisme adalah buruk? Mengapa tidak ada Muslim di luar sana mengatakan tentang Islam yang sebenarnya?'," kata Casey. "Dan saya fikir, yah, saya akan melakukannya jika tidak ada orang lain yang akan melakukannya."

Saluran Casey di YouTube memiliki lebih dari 5.000 pelanggan dan hampir setengah juta pengunjung. Meskipun pendengarnya terus bertamabah, dia juga mengalami hambatan, antara lain berbagai bentuk komen marah dan sanggahan.

Namun, dia tak surut ke belakang. Alasannya sederhana: "Saya merasa seperti saya memiliki tanggung jawab kepada orang-orang di Amerika," katanya, "Kerana ini adalah tempat saya tumbuh dan ini adalah rumah saya, dan saya ingin berbagi apa yang membuat saya sangat bahagia dan telah membawa saya kedamaian begitu banyak."




kredit: nn & borakkosong

Selasa, 8 Februari 2011

Aku Yahudi Yang Islam

 "Aku dilahirkan sebagai seorang Yahudi Rusia. Perjuanganku bermula semasa aku berumur 19 tahun. Keyakinanku terhadap tuhan kerap berbolak-balik. Cita-citaku dalam hidup ini mulanya adalah nak menjadi seorang bintang rock. Aku tinggal di US dan bekerja sebagai setiausaha..... sungguh melucukan..

Suatu malam aku berjalan ke dapur, tiba-tiba ternampak satu lembaga hitam, rupanya kawan serumahku. Aku masih ingat bertanya dia "Boleh tak aku simpan vodka ini dalam peti ais?. Lepas tu kami bersalaman dan kembali ke bilik tidur. Selepas itu, kehidupan aku berubah secara tiba-tiba.

Kawan aku ini adalah seorang muslim. Dia adalah orang Islam yang pertama aku kenali. Oleh sebab terlampau kuat semangat ingin tahu aku pun bertanya kepada dia tentang Islam... Aku Tanya dia pasal sembahyang 5 waktu, perang jihad, siapa Muhammad?

Perbualan kami turut disertai bersama dengan seorang kawan Kristian kami bernama Wade. Jadi kami pun membentuk dialog antara agama Islam, Yahudi dan Kristian. Dalam sesi tersebut kami telah menemui banyak perbezaan dan persamaan.

Tanpa kusedari minatku telah bertukar daripada seks, dadah dan berpesta kepada pencarian mendalam kepada agama. Satu pencarian yang aku perlu lengkapkan. Pencarian kepada tuhan dan pencarian bagaimana untuk mengikuti perintah tuhan.

Dalam kesungguhanku mencari kebenaran, aku bertanya kepada diriku. Ok, kita mula cara mudah, ada berapa tuhan sebenarnya? Aku yakin ada satu je.. sebab kalau banyak tuhan akan jadi lemah sebab pasti berlaku perselisihan dan pergaduhan... Satu tuhan adalah keyakinanku, dan pilihanku.

Suatu ketika dulu aku buka mindaku kepada kemungkinan wujudnya tuhan. Aku analisa pandangan orang yang percaya dan tak percaya. Yang membuatkan aku menyebelahi orang yang percaya adalah ungkapan ‘setiap rekaan mesti ada perekanya'. Dengan keyakinan sedemikian dalam diriku akhirnya aku sedar dengan yakin bahwa tuhan itu wujud. Aku masa tu masih tak dapat menjelaskannya tetapi jauh dalam lubuk hatiku aku percaya.

Ketakjuban yang baru aku jumpa ni diikuti dengan rasa tanggungjawab terhadap Penciptaku. Dunia beragama kemudian menjadi tumpuanku.
Lepas tu aku bertanya pada diriku "Mana aku akan mula?" Secara lisan ada ribuan jenis kepercayaan. Aku perlu juruskan kepada hanya beberapa kepercayaan sahaja. Macam mana aku nak selesaikan masalah ini? Mula-mula cari yang percaya pada satu tuhan sahaja. Ini aku masukkan dalam kepala otakku. Tentu sekali ini logik sebab aku hanya percaya pada satu tuhan sahaja."

Ok, lepas tu.. "ini maknanya kita tolak agama Hindu dan Buddha sebab keduanya percaya pada banyak tuhan. Jadi tinggal 3 saja agama yang ada satu tuhan iaitu Islam, Yahudi dan Kristian.... Jadi oleh sebab aku ni Yahudi aku mula dengan Judaism (Ugama Yahudi) terdapat satu tuhan, beberapa Rasul, '10 Commandments', Taurat, jiwa Yahudi...apa,.. apa jiwa Yahudi?

Masa aku buat kajian perkara ini menghantui fikiranku. Ceritanya ‘Jika seseorang tu dilahirkan sebagai Yahudi dia ada jiwa Yahudi dan mereka mesti menganut Judaism (agama Yahudi)'.... tunggu jap..kalau macam tu ni dah jadi diskriminasi kan? Sedangkan agama itu patut universal (menyeluruh).

Jadi tuhan juga buat jiwa Yahudi, jiwa Kristian dan jiwa Muslim dan jiwa Hindu? Aku ingat semua manusia diciptakan sama sebagai manusia? Jadi kalau seseorang itu dilahirkan dalam sesuatu agama dengan ketentuan tuhan, maka dia mesti berada dalam agama tersebut walaupun akhirnya seseorang tu mendapati agamanya sesat?...hmmm aku tak percaya ..camtu zalim tuhan..ini mustahil.

Satu hal lagi yang peliknya dalam Judaism tak ada konsep neraka...yang ada syurga je...kalau macam tu kenapa nak buat baikkan? Kenapa hidup ni tak buat dosa je? kan elok? Kalau aku takde rasa takut dengan pembalasan atas kejahatan yang aku lakukan kenapa aku perlu berlaku baik dalam hidup?

Kita teruskan..Aku dapati Christianity (agama Kristian) ok, ada satu tuhan, seorang anak, seorang bapa dan roh suci...macam mana nak kata semua ni satu tuhan 1+1+1 =3 bukan satu? Jadi macam mana yang dikatakan percaya satu tuhan?

Penjelasan lepas penjelasan, persamaan lepas persamaan dan perbandingan lepas perbandingan, analogi lepas analogi.. aku tak dapat terima konsep ini... Ok kita tengok isu lain pula...

Jesus mati disebabkan dosa kita dan dia lakukan sedemikian sebab kita telah dipenuhi dengan ‘dosa asli'. Jadi, Jesus Christ anak tuhan perlu dikorbankan untuk menyelamatkan semua orang daripada neraka dan menyembuhkan kita daripada dosa yang diberikan kepada kita oleh Adam..

Ok, kalau begitu maknanya kamu mengatakan bahawa kita dilahirkan sebagai orang yang telah sedia berdosa? Dan untuk jadi orang yang berdosa seseorang itu perlu melakukan satu dosa baru boleh jadi begitukan? Jadi kamu beritahu aku yang bayi yang baru lahir telah melakukan kesalahan berdosa? Yang ni pelik.. takkan sebab kesalahan satu orang semua manusia kena pikul dosanya? Apakah maksud pegangan sebegini? Seksa semua orang walaupun satu orang melakukan kesalahan? Kenapa tuhan buat undang-undang macam tu? Tuhan tak zalim..mustahil... tak logik... aku tak percaya.

Jadi Jesus Christ mati kerana beliau ‘mengasihi manusia'.. Nanti dulu dalam Bible disebut Jesus berkata "Bapa, kenapa aku dibuat begini?" Bermakna Jesus tak faham kenapa dia dibunuh secara kejam.. Tetapi kamu kata dia secara sukarela dikorbankan.... Walau apapun aku tetap tak dapat terima kepercayaan begini. Ok, agama selanjutnya adalah Islam....

Islam bermaksud penyerahan diri. Kepercayaan umumnya adalah satu tuhan, solat 5 waktu sehari semalam, infaqkan 2.5% zakat tahunan kepada fakir miskin, berpuasa bulan Ramadan.. dan mengerjakan Haji sekali seumur hidup jika mampu. Ok, tak ada yang sukar untuk difahami.
Tak ada yang bercanggah dengan logik akalku. Al-Quran adalah kitab mukjizat. Banyak bukti saintifik telah diperolehi daripadanya sejak 1,400 tahun yang lalu.

Ok. Islam telah melepasi tapisan awalku tentang keagamaan.. Tetapi aku ingin bertanya beberapa soalan yang mendalam tentangnya.. Adakah Islam itu menyeluruh? Ya.. semua orang boleh faham kepercayaan yang asas ini. Tiada analogi atau persamaan yang diperlukan.. Adakah ianya selaras dengan Sains? Sudah tentu.. terdapat berdozen ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang Sains moden dan teknologi.
Semakin aku membuat kajian ke atas ratusan fakta logik yang aku baca dan buat kajian, satu perkara lagi mengetuk fikiranku...yang paling utama sekali Islam.. nama agama. Aku dapati ianya disebutkan banyak kali di dalam Al-Quran.

Walau bagaimanapun, mengingat semula kajianku yang lepas. Aku tak ingat pun melihat satu perkataan Judaism di dalam ‘Old Testament" atau Christianity di dalam ‘New Testament". Perkara ini amat besar dan mustahak. Kenapakah kita tak jumpa nama agama masing-masing dalam kitab berkenaan? Sebab... memang tidak ada nama agama dalam kitab tersebut ..Saya pun berfikir.. Judaism datang daripada perkataan "Juda" dan "ism" sementara Christinity daripada perkataan "Christ" dan " ianity"...
Jadi siapakah Juda ini? Dia adalah ketua kabilah Hebrew ketika tuhan menurunkan wahyu kepada manusia. Jadi agama ini dinamakan daripada nama seseorang.. Ok.. kita tengok pula siapakah Jesus Christ. Dia adalah orang yang menyampaikan risalah tuhan kepada golongan Yahudi. Jadi, kesimpulannya agama ini dinamakan dengan nama manusia.
Bercanggah dengan fakta, agama Judaism dan Christinity tidak ada disebutkan dalam kitab suci mereka.. Bagi aku ini sangat pelik.. aku tak boleh terima.

Kalaulah aku jual barang dari rumah ke rumah dan aku cakap pada tuan rumah "Tuan nak beli barangan (tiada nama)? Tentu sekali jawapan logik adalah "Apakah barangan (tiada nama) ini dipanggil?.. Pasti saya takkan dapat menjual walau satu produk pun yang tiada nama, bukan ?
Menamakan sesuatu adalah perkara asas manusia menentukan objek baik secara fizikal atau bukan fizikal. Kalau agama yang hendak dianuti dan disebar kepada manusia di atas mukabumi, tentu sekali ianya mesti ada nama.

Sudah tentu sekali nama agama adalah nama yang diberikan oleh tuhan yang maha Esa? Aku yakin macam tu... tepat sekali.. Nama Judaism dan Christianity tidak ditulis dalam kitab suci mereka, manusia yang ciptakannya bukan tuhan. Kenyataan yang tuhan menurunkan agama untuk manusia ikuti tanpa nama adalah mustahil pada pendapat aku... Tak masuk akal.

Pada hujah ini, Judaism dan Christianity dah hilang kredibiliti sebagai asli, logik dan menyeluruh sebagai sebuah agama daripada pandanganku. Islam adalah hanya satu agama yang ada nama agamanya tercatat dalam kitab suci,,,, ini sangat penting dan bermakna bagiku.

Aku kini menyedari aku wajib mengikuti Islam.......kemudian aku mengucap syahadah...aku bersyukur diketemukan dengan kebenaran. Dulu aku dalam kegelapan ..kini aku dalam cahaya kebenaran..

Allahu Akbar.......

Oleh Michael David Shapiro

Wallahualam.." 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jom Daftar Tambah Visitors

Free advertising

Entri Mereka Juga Menarik

Geng Baik