Sabtu, 14 Julai 2012

Mengapa Kita Harus Sambut Ramadhan Dengan Gembira?


Allah Ta'ala telah mengutamakan sebahagian waktu (zaman) di atas sebahagian yang lain, sebagaimana Dia mengutamakan sebahagian manusia di atas sebahagian yang lain dan sebahagian tempat di atas tempat lain. Allah Ta'ala berfirman,

وربك يخلق ما يشاء ويختار ما كان لهم الخيرة

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka" (QS al-Qasas: 68).

Syaikh 'Abdur Rahman as-Sa'di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, "(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan keMahaEsaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (zaman) mahupun tempat " [1] .

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta'ala utamakan dan istimewakan berbanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajipan berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah Ta'ala memuliakan bulan yang penuh berkat ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta'ala yang bertakwa untuk berlumba-lumba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada- nya [2] .

 
Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkatan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu syurga dan di tutup pintu-pintu neraka [3] .

Oleh kerana itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta'ala dan ingin meraih redha-Nya.

Dan kerana agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu menyampaikan khabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu' anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkat ini [4] .

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan khabar gembira kepada para sahabatnya, "Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkatan, Allah mewajibkan kamu berpuasa padanya, pintu-pintu syurga di buka pada bulan itu , pintu-pintu neraka di tutup, dan para syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan / lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalang (dari keutamaan yang agung) " [5] .

Imam Ibnu Rajab, ketika mengulas hadis ini, beliau berkata, "Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan pembukaan pintu-pintu syurga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertaubat serta kembali kepada Allah Ta'ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para syaitan dibelenggu? " [6] .

Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta'ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, kerana mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta ' ala. Mu'alla bin al-Fadhl berkata, "Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta'ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal soleh) yang mereka (kerjakan) " [7] .

Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keredhaan dari Allah Ta'ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta'ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah" [8] .

Tentu saja persiapan diri yang dimaksudkan di sini bukanlah dengan memborong pelbagai macam makanan dan minuman yang lazat di pasaran untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti program-program acara Televisyen yang lebih banyak merosakkan dan melalaikan manusia dari mengingati Allah Ta'ala dari pada manfaat yang diharapkan, itu pun kalau ada manfaatnya.

Tapi persiapan yang dimaksudkan di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung yang lain di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, iaitu dengan hati yang ikhlas dan amalan ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam . Kerana balasan kebaikan / keutamaan dari semua amal soleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, bergantung kepada sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya amalan amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam [9] .

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan solat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) solat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya " [10] .

Juga dalam hadis lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kadang-kadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bahagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja" [11]


Meraih Takwa dan Kesucian Jiwa dengan Puasa Ramadhan

Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta'ala [12] , yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati [13] . Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman,

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa" (Surah al-Baqarah: 183).

Imam Ibnu Katsir berkata, "Dalam ayat ini Allah Ta'ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang bererti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-isteri dengan niat ikhlas kerana Allah ta'ala (semata), kerana puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela " [14] .

Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa'di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

- Orang yang berpuasa (bererti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-isteri dan sebagainya, yang semua itu diingini oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).
- Orang yang berpuasa (bererti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta'ala), maka dia meninggalkan apa yang dikehendaki hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), kerana dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan) nya.
- Sesungguhnya puasa akan menyempitkan jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), kerana sesungguhnya syaitan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah [15] , maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
- Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta'ala), dan amal-amal ketaatan merupakan sebahagian daripada takwa.
- Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bahagian dari takwa [16] .

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri mempunyai sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar bererti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, "Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya" [17] .

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh kerana itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis yang sahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran) [18] . Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas [19] , sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Semua amal (soleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali ganda. Allah Ta'ala berfirman: "Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), kerana sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya" [20] .

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terhad, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

{إ نما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب}

"Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas" (Az-Zumar: 10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau, "Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) peruntukan-peruntukan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, kerana (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa " [21]

muslim.or.id


[1] Kitab "Taisiirul Kariimir Rahman" (hal. 622).
[2] Lihat kitab "al-'Ibratu fi syahrish puasa" (hal. 5) tulisan guru kami yang mulia, syaikh' Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad - semoga Allah menjaga beliau dalam kebaikan -.
[3] Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR al-Bukhari (no. 3103) dan Muslim (no. 1079).
[4] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab "Latha-iful Ma'aarif" (hal. 174).
[5] HR Ahmad (2/385), an-Nasa'i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan sahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab "Tamaamul Minnah" (hal. 395), kerana dikuatkan dengan riwayat- riwayat lain.
[6] Kitab "Latha-iful Ma'aarif" (hal. 174).
[7] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab "Latha-iful Ma'aarif" (hal. 174).
[8] HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).
[9] Lihat kitab "Shifatu shalaatin Nabi r" (hal. 36) tulisan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
[10] HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no. 796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-'Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab "Shalaatut taraawiih (hal. 119).
[11] HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.
[12] Lihat kitab "Tafsiirul Qur'anil kariim" (2/317) tulisan syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin.
[13] Lihat kitab "Manhajul Anbiya 'fii tazkiyatin Nufuus" (hal. 19-20).
[14] Kitab "Tafsir Ibnu Katsir" (1/289).
[15] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).
[16] Kitab "Taisiirul Kariimir Rahman" (hal. 86).
[17] Kitab "al-Fawa-id" (hal. 97).
[18] Lihat "Silsilatul ahaaditsish Shahiihah" (no. 2623).
[19] Lihat kitab "Latha-iful Ma'aarif" (hal. 177).
[20] HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafaz ini yang terdapat dalam "Sahih Muslim".
[21] Kitab "Latha-iful Ma'aarif" (hal. 177).
[22] HR at-Tirmidzi (no. 682), Ibnu Majah (no. 1642), Ibnu Khuzaimah (no. 1883) dan Ibnu Hibban (no. 3435), dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah,Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani 


Tiada ulasan:

Catat Ulasan