Selasa, 31 Januari 2012

Kisah Sedih Seorang Imam, Tukang Pemungut Sampah di Jakarta



London binman atau tukang pemungut sampah dari London,U.K, Wilbur Ramirez tinggal selama 10 hari di rumah  seorang Imam, yang bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta. Dia cuba menghayati kehidupan sehari-hari Imam tersebut.

LONDON-Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan bandar yang cukup pesat di dunia ditayangkan stesen televisyen Inggeris BBC2, Minggu (29 / 1/ 2012) malam.

Laporan wartawan BBC London berjudul 'Toughest Place to be a binman' membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak sahaja di Britain tetapi juga di Brussels, dan Amerika Syarikat yang boleh menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC iPlayer.

Selama satu jam laporan mengenai kisah Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap hari dengan gerobaknya sementara diawal tayangan, tukang sampah dari Britain Wilbur Ramirez mengunakan lori dan bekerja dengan dua rakannya.

Image for Binman
gambar dari- BBC London

Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenali dengan binman di Britain dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeza dilihat dari pelbagai segi bahkan kesihatan dan keselamatan. 
Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin di tengah- tengah kehidupan bandar Jakarta yang kaya dan sangat tempang antara yang kaya dan miskin.
Wilbur Ramirez, selama 10 hari, mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di bandar yang disebut sebagai kota yang padat penduduknya dan sampah menjadi masalah besar disana.

"Kamu bekerja dengan sesiapa sahaja," tanya London binman Wilbur Ramirez kepada Imam, dan Imam menjawab ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Menangis
Melihat kehidupan Imam itu, ternyata Wilbur seringkali merasa terharu dan bahkan menitiskan air mata. Mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan isterinya walaupun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun.

Dalam laporannya disebutkan Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan mencuba melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah.

"Sampah ........," demikian teriak Imam, ayah dua anak ini sehari-hari menjalankan aktivitinya sebagai pengumpul sampah.

Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika menceritakan bagaimana kehidupan Imam dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh perkhidmatan kesihatan.

Dari dunia kesihatan dan keselamatan sedar pengurusan sisa Britain, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang terkumpul di Bantargerbang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesihatan dan keselamatan mereka.

Di akhir laporan Wilbur yang tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu mencari kehidupan, Imam yang mendominasi, dan ketidak berdayaannya untuk menukar keadaannya.

Pada akhirnya setelah Wilbur bercakap dengan ketua RT yang meminta agar Imam mendapat kenaikan gaji pun dapat dikabulkan.

Menjadi Perbincangan di Internet
Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman Facebook-nya "sediiiiiih sangat melihat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang binman London ke  Jakarta berkongsi pengalaman". 

"Sangat memalukan sekali bandar Jakarta ternyata sangat kotor dan masih mundur sekali cara kerjanya," ujar isteri Berry Natalegawa, kakak Menteri Luar Marty Natalegawa. 

Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa, biasa disapa seharusnya para pegawai malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Britain. 
"Apakah tidak malu? Wakil rakyat seenak-enaknya ambil wang rakyat apa lagi pemimpin negara yang tidak peduli...sangat memalukan, semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini," ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merakam program tersebut dan akan membawanya ke Jakarta. 
"Menangis aku menontonnya ..... bukan menangisi Si tukang sampah  dari Britain itu, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah," ujar Yanti Hitalessy.

Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan perbincangan di laman facebook yang antara lain disebut oleh Lies Parish meskipun sama bekerja sebagai tukang sampah atau binmen namun pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeza.

Bahkan London binmen pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta itu, ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Britain.

Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di United Kingdom dan kini tinggal di Brussels yang juga menyaksikan tayangan tersebut mengakui bahawa acara benar-benar kontras kehidupan di sana...

Begitu juga Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol menulis, tukang sampah di Britain yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di  Jakarta itu.

Editor: Ramdhan Muhaimin

Disunting dari: Antara/wisbenbae



Tiada ulasan:

Catat Ulasan